Adil Sejak Dalam Pikiran.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” , – Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia.

Kata-kata yang diucapkan oleh Jean kepada Minke (tokoh karangan Pram dalam tetralogi buru) ini memang begitu dalam dan sering digunakan mereka yang mengaku “terpelajar” sekarang-sekarang ini. Adil dalam pikiran, Pertanyaannya adalah: apakah adil dalam pikiran itu? masih adakah ruang untuk bersikap adil sejak dalam pikiran? Sejauh apa kita bisa adil dalam pikiran?

Di era sosial media di mana gagasan digunakan untuk menjatuhkan lawannya dan mengumpulkan dukungan untuk sebuah pembenaran yang lagi-lagi untuk menyerang lawan. sejauh apakah adil dalam pikiran itu dapat berperan? Betulkah masih ada ruang  untuk bersikap adil sejak dalam pikiran? Bukankah jika sudah tidak sejalan, dianggap berseberangan secara ideologi atau tidak sepaham?

Masih teringat di ingatan ketika seseorang dengan begitu lantangnya dan semangatnya mengumbar keburukan salah satu pasangan calon yang berseberangan dengan yang ia dukung apapun itu, bahkan hanya masalah penggunaan tangan untuk makan pun dipertentangkan, namun berbeda jika hal buruk itu berada pada pasangan calon yang ia dukung. “coba tabayun dulu” .katanya.

rasanya cerita di atas tak hanya satu dua kali kita temui, tak terbatas pada kubu ini atau kubu itu. terdapat juga pada kita. yang mengaku masih menggunakan akal sehat. sering kali kita terlalu cepat menghakimi mereka yang bersebrangan dengan kita. dan begitu cepat mengamini mereka yang sependapat dengan kita, kan?

ambil kasus, sebelum sebuah berita  kita percayai, beberapa kali kita mencari tahu kebenaran tentang berita keburukan seseorang yang kita dukung? dan beberapa kali kita mencari tahu tentang berita keburukan seseorang yang menjadi lawan kita? mari kita taruhan, pasti tak seimbang bukan?

mengajari mereka agar “adil sejak dalam pikiran”. namun apakah kita sudah melaksanakanya dengan baik? apakah kita sudah adil dengan mereka? apakah kita sudah mengerti latar belakang mereka? apakah kita sudah memahami kenapa mereka begitu benci dengan lawannya? apakah kita mau memahami mereka? apakah kita sudah memandang dari sudut pandang mereka?

jadi apakah adil sejak dalam pikiran itu benar-benar ada?

 

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

0 comments