Atas Nama Pengamanan. #UsutTuntas

“Di Indonesia ini hanya ada 3 polisi jujur. Yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Pak Hoegeng”. (Gus Dur)

Jum’at 13 mei 2016. Gelora bung Karno Malam itu berlangit cerah seakan-akan menjawab doa dari puluhan ribu supporter ibukota yang hadir. Persija Jakarta, Tim asal ibukota kembali menggelar laga di kandangnya. gemuruh teriakan dan nyanyian terdengar sejak dua jam sebelum laga dimulai. ditambah ini (katanya) hajatan terakhir sebelum GBK direnovasi dan sebelum Persija harus kembali mengungsi.

Antrian yg mengular di setiap pintu masuk, ditambah lagi kuota tiket yang disediakan cuma 40.000, tindakan bodoh dari panitia pelaksana karena melihat laga sebelumnya sedikitnya ada 60.000-70.000 orang yang datang. apalagi ini adalah laga melawan persela lamongan, seperti yang diketahui supporter kedua kesebelasan memiliki keakraban yang sangat erat. banyaknya calo dan oknum pengaman yg menjual tiket yang tidak dirobek menambah kesemerautan gbk malam itu . diperparah oleh mereka yang berseragam yg seenaknya memasukan keluarga dan kerabatnya meski tanpa tiket! alhasil desakan dan dorongan menjadi pemandangan jamak di setiap pintu masuk. belum lagi tindakkan pengamanan berlebihan dari aparat. membuat panas dan kacau suasana.

Parfum,sabun pencuci muka,tumbler minuman,Rokok hingga makanan ringan dalam kemasan disita atas nama pengamanan. “biar gak dilempar ke lapangan”, kata mereka. coba kita berlogika sejenak, sejauh apa seseorang bisa melempar chiki kemasan????    belum lagi larangan membawa rokok ke dalam tribun, rasanya terlalu naif jika beranggapan mereka berusaha menyelamatkan kami dari bahaya asap rokok karena FAKTANYA di dalam tribun banyak anggota berseragam menghisap rokok mereka dalam-dalam. ah… indonesia…

pukulan rotan,tendangan,intimidasi bahkan gas airmata mereka hadiahkan ke kami. atas nama pengamanan katanya. Pengamanan bullshit!toh tribun baik-baik saja meski tanpa kalian. masih terngiang di otak saya melihat anak-anak menangis di gendongan ibunya karena menghirup gas air mata pada laga sebelumnya. belum lagi cerita seorang teman yang bilang bahwa pintu masuk dialiri listrik dari alat kejut listrik, apakah layak? seorang yang mengeluarkan uang untuk menonton sebuah pertandingan di akhir minggu kemudian harus menerima perlakuan seperti penjahat dan teroris? dari mereka yang mengatasnamakan pengaman? pengayom masyarakat ? mereka yang berlindung dari balik seragam yg diperoleh dari uang pajak kami? dan bahkan mereka yang bertugas karena uang tiket kami? saya ingat ketika laga trofeo persija sebulan lalu. saat itu di pintu masuk entah apa masalahnya tiba ada aparat yang memukul membabi buta dengan  rotan. dan mengenai pundak saya,orang di depan dan di samping saya dan mungkin mengenai juga seorang supporter wanita di belakang saya.

dan mungkin jum’at 13 mei lalu adalah puncaknya. kawan kami harus meregang nyawa di tangan mereka yang mengaku pengaman.rasanya tak terbayang merasakan sakitnya sabetan rotan,pukulan dan tendangan dari boots hitam yang dipakai oleh aparat ke tubuh mungilnya yang seharusnya diindungi. fahreza, 16tahun, rasanya belom pantas untuk diambil nyawanya. pintu masuk sektor 12  menjadi saksi bisu teriakan dan erangan dari tubuh bocah kecil itu ketika dihabisi oleh tendangan dan pukulan para aparat yang harusnya melindunginya. tubuh mungil itu tergeletak babakbelur tak berdaya menggenggam tiket pertandingan terakhirnya yang ironisnya tak sempat ia saksikan. setelah dua hari ia berjuang dan merasakan sakit dalam koma. akhirnya tubuh mungilnya menyerah dan mengiklaskan untuk kembali padaNYA.

selamat jalan kawan, terbanglah dan istirahatlah dengan tenang. melunasi satu janji PERSIJA SAMPAI MATI!

 

Atas nama pengamanan.

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

0 comments