Bung Hatta: Kesederhanaan,Buku dan Bally

Sebelumnya ijinkan gue menuliskan fragmen dari sebuah lagu yang gue suka. Lagu yang menceritakan tentang seorang tokoh yang membuat gue jatuh cinta. Bung Hatta.

…Empat belas Maret delapan puluh, air mata ibu pertiwi membasahi bumi indah ini.
Pergilah sosok bijak itu, Mohammad Hatta, rindu kami kepadamu..

Kau ajarkan kami bahwa cinta saja tak cukup, perkaya diri dengan ilmu, merantau kalau perlu.
Kompetensi lah yang buat bangsa maju, itulah mengapa kau mencintai buku..

Kau ajarkan kami untuk berani. Di negeri yang menjajahmu, kau lantang, berdiri sendiri, teriakkan pledoi “Indonesie Vrij!” Kau buktikan kata dan tulisan setajam belati..

Kau korban perbedaan pendapat, namun kau tahu konflik tiada manfaat.
Jabatan ditinggal tapi cinta disimpan rapat dalam hati, juga cita-cita untuk punya Bally…”
Menolak Lupa – Pandji Pragiwaksono.

Hari ini, Tepat tiga puluh tujuh tahun lalu, Seorang pria berkaca mata yang fotonya selalu dapat kita temui di semua ruang kelas tempat kita belajar selama bersekolah itu menghembuskan nafas terakhirnya. pada hari itu Ibu Pertiwi harus kembali bersedih karena kehilangan putra terbaik bangsanya

Bung Hatta, sosok seorang poliglot dan Bibiliofil  yang tak bisa kita lepaskan dari kesederhanaan, buku dan kisah tentang sepatu bally, Kisah yang membuat mata gue berkaca-kaca ketika pertamakali membaca dan mungkin hingga saat ini ketika menuliskan tulisan ini.

 

 

Bung Hatta dan Buku.
Di antara para pendiri bangsa, mungkin Bung Hatta adalah yang paling mencintai buku. Setidaknya ada 4 kekasih Bung Hatta: Indonesia, rakyat Indonesia, buku, dan Rahmi Hatta. Sebuah kelakar menarik pun pernah dituliskan oleh seorang Tan Malaka dalam sebuah bukunya tentang keiriannya kepada bung Hatta karena dapat membawa berpeti-peti pustaka di saat masa pembuanganya. Sebuah Buku karangannya sendiri yang berjudul “Alam Pikiran Yunani” pun dijadikannya mas kawin saat mempersunting Ibu Rahmi Hatta,seorang wanita cantik yang dikenalkan oleh bung Karno kepada dirinya (konon Rahmi itu tipe yang diidam-idamkan Bung Karno, tapi itulah guna sahabat).bahkan sebuah lelucon menyebutkan kalau bu Rahmi sebenarnya adalah istri kedua bung Hatta. Siapa istri pertamanya? Tak lain adalah buku.

Membaca banyak buku dan menulis adalah kegemaran Bung Hatta, meski menggunakan buku sebagai referensi bagi pemikiran-pemikirannya bukan berarti beliau tak mempunyai pendapat sendiri, Ia mengelaborasi pandangan-pandangan para intelektual masa lalu tersebut untuk menciptakan pemikiran-pemikirannya sendiri.

 

Kesederhanaan,Kejujuran dan kisah sepatu Bally
Sewaktu bung Hatta masih menjadi wakil Presiden bukan berarti mudah untuk membeli apa saja, Ibu Rahmi Hatta harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian uang pemberian bung Hatta untuk membeli sebuah mesin jahit. Namun ketika Kebijakan Sanering (Pemotongan Nilai Uang) dari Rp.100 menjadi Rp.1 dilaksanakan, Impian mereka untuk mempunyai mesin jahit pun tertunda, karena nilai tabungan yang dikumpulkan Rahmi nilainya makin sedikit dan semakin tidak cukup untuk membeli mesin jahit. Ibu Rahmi pun komplain kepada suaminya, kenapa ia tidak diberitahu dulu sebelumnya. Bung Hatta menjawab “istriku, rahasia negara tidak ada sangkut pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga.”.

Ada lagi kisah yang mengharukan lainnya dari bung Hatta yang sampai saat ini masih bikin mata gue berkaca-kaca. Kisah tentang sepatu Bally. Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia itu mengidam-idamkannya sepasang sepatu, dengan berbekal potongan kertas iklan berisi alamat penjual yang ia simpan, ia mulai menabung untuk mewujudkan keinginannya itu. agak aneh memang jika melihat posisinya saat itu ia bisa saja “minta jatah” kepada pengusaha atau para duta besar yang jadi kenalannya, tetapi itulah keistimewaan bung Hatta. Ia memilih jalan yang sukar dan lama. Ia tak mau meminta sesuatu untuk kepentingan pribadinya dari orang lain. Pada akhirnya tabungannya itu tak pernah cukup karena selalu terpakai untuk keperluan keluarga dan membantu kerabat atau handai taulan yang membutuhkan. Sampai akhir hayatnya sepasang sepatu itu tak juga terbeli.Sepasang kaki-kaki itu tak juga diselimuti sepasang bally.

hingga sepeninggal beliau potongan kertas iklan itu masih tersimpan dalam buku hariannya, potongan kertas yang jadi saksi bisu keinginan sederhana dari seorang Mohammad Hatta. Seorang pejuang yang berjanji tak akan menikah hingga kemerdekaan ada pada bangsanya. Seseorang yang tak mau meminta sesuatu untuk kepentingan pribadinya. Seorang sahabat yang yang memilih mundur dari pada bersitegang dengan sahabatnya. seorang tokoh yang rela hidup sederhana karena rakyatnya. Seorang suami yang rela menunda keinginan istrinya karena tak mau berkhianat kepada rakyat dan bangsanya.

Hatta..  Ia masih hidup di benak Gue,Elo dan Kita semua.
Buah pemikiran dan kesederhaannya, Amatlah besar peninggalan itu, untuk kita semua, bangsa Indonesia.

 

Bekasi,14 maret 2017

 

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

0 comments