Dua

“Menurutmu di mana tempat paling tenang di Dunia? Perpustakaan? Gunung? Pantai? atau Tempat Ibadah? bagiku ada satu lagi, stadion sepak bola dua jam sebelum pertandingan. saat di mana teriakan-teriakan belum terdengar, bendera-bendera besar belum dikibarkan, sebelum suar-suar dinyalahkan atau bahkan sebelum sang idola mengenakan sepatu kesayangan. sebelum semua hingar-bingar itu.. ” 

Aden selesai menuliskan caption dari sebuah gambar barisan bangku-bangku dan sebuah lapangan kosong yang baru saja ia abadikan. Wajah dari stadion Sepak bola dua jam sebelum laga dimulai. sudah laga kandang ke-4 ia datang lebih awal sejak Zaki, teman yang biasa ia ajak nonton klub kesayangan mereka, memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar daerah.
Selain karena ia malas harus bertumpuk-tumpukan di pintu masuk stadion saat waktu mendekati kickoff, Aden juga seperti menemukan dunia baru, gambaran hingar-bingar stadion sepakbola sama sekali tidak tergambar dari apa yang ia dapati sekarang, Sepi dan tenang, cuma beberapa puluh orang yang mengisi tiap-tiap sektor tribun yang dapat menampung delapan puluh ribu orang itu.

Setelah berhasil mengapload postingannya, Aden melanjutkan ritual melamun sambil pandangan matanya menyapu sekeliling tribun stadion. tak banyak yang ia lihat, hanya beberapa seksi sibuk dari salah satu kelompok besar pendukung kesebelasan tuan rumah yang sedang mempersiapkan kertas-kertas koreo dan bendera-bendera besar, Panitia pelaksana pertandingan yang hilir mudik ke sana-ke mari dan para petugas pengamanan yang mengisi tiap-tiap sektor yang sedang tenggelam dengan handphonenya masing-masing. Aden pun kembali terlelap ke dalam lamunannya.

 

Tiba-tiba lamunan aden terpecah oleh beberapa kali tepukan di punggungnya. “Mas, Punya bolpoin?”, Tanya seorang gadis penepuk yang hampir mengagetkannya. “oh iya, sebentar….oh ini ada”, jawab aden sambil memberikan bolpoin dari dalam tas punggung yang ia bawa. Agak aneh memang melakukan transaksi pinjam-meminjam bolpoin dalam stadion sepakbola, mungkin karena melihat potongan Aden dan tas punggung yang dibawanya, Gadis itu yakin kalo Aden membawa apa yang ia perlukan. “Saya bawa ke situ ya mas, sebentar..”, pinta gadis itu menunjuk kursi di tiga deretan atas dari tempat duduk aden. “Iya.. bawa aja mbak” jawab aden dan gadis itupun berlalu kembali ke kursinya.

Bukan pertama kali Aden melihat sosok gadis itu, terhitung sudah dua pertandingan ia memperhatikan gadis yang selalu duduk hampir di tempat yang sama, sesosok gadis bertubuh mungil namun berisi dengan rambut sebahu, dan sebuah kacamata besar yang tidak menutupi pandangan cerah dari kedua matanya. dengan garis senyum yang  manis dan sepasang lesung pipi yang menambah keindahan dari parasnya. ditambah buku-buku yang selalu ia genggam membuatnya berbeda dengan para pengunjung yang hadir dalam stadion itu.

“Mas.. haloo mas..  mas.. “, lagi-lagi gadis itu memecahkan lamunan Aden. “Oh udah selesai pakainya?”, jawab aden sesadarnya. “hmm.. belum sih, cuma mau tanya jam, hape saya mati..”, pinta gadis itu sambil menunjukan hapenya yang dalam keadaan gelap. “baru jam 2.35, itu tasnya bawa ke sini aja, kayaknya bangkunya mau dipake koreo tuh.” , kata aden menunjuk ke arah bangku-bangku di belakangnya yang sedang akan dipasang tali-tali untuk penanda pola koreo.  “oke, saya pindah ke sebelah sini deh kalo gitu”, kata sang gadis sambil berlalu.

Gadis itu tersenyum sambil meletakan tasnya di bangku sebelah Aden. Senyuman yang membuat Aden tiba-tiba ikut tersenyum. Sambil menggengam bolpen yang dipinjamnya gadis itu masih terhanyut dalam entah-apa-yang ditulis dalam buku catatan berwarna biru muda-nya.

“Nulis apa mbak?.”, tiba-tiba suara sang Aden memecah kesunyian.

“Ini saya suka catet quote-quote dari buku yang lagi dibaca gitu, iseng-iseng aja sih” Kata sang gadis sambil tetap memandang buku catatannya.

“itu bukunya Pram ya? waduh ‘kiri’ nih? hehehe”, celetuk asal Aden setelah melihat cover buku berwarna hijau dengan gambar delman di depannya.

“enggak juga sih, Tapi aneh aja ya mas, buku romantis gini kok sempet dilarang pemerintah, padahal bagus banget.. ” protes gadis itu.

“yagitulah , mereka takut sama hantu yang mereka ciptain sendiri, jadi gitu deh..  oiya, nih.. katanya batre handphonenya abis? panggil Gue Aden aja, kayaknya kita seumuran.” Kata Aden sambil menawarkan Powerbank kepada si Gadis.

“Gausah repot-repot Den, suasana tenang kayak gini tuh jarang bisa didapetin, biar gak ketergantungan gadget mulu. Nama gue Dea”.  kata si gadis, tetap sibuk dengan catatannya.

Keheningan kembali menyelimuti di antara mereka berdua, Dea, nama gadis yang tepat duduk di sebelah Aden sekarang. Gadis gak biasa yang bawa buku dan dibaca di stadion sepakbola dua jam sebelum pertandingan.

“Makasih ya Den”, kata si Gadis menyerahkan Bolpen pinjamannya.

“udah beneran nih? yakin?” jawab Aden meyakinkan.

“hehe udah selesai, lo kok udah dateng jam segini den? kan pertandingan masih lama?” kata gadis itu berusaha ramah.

“Males macet-macetan di jalan, tau sendiri jalanan sekarang, lagian kan di pintu masuk pasti numpuk kalo udah deket mulai pertandingan, mending dateng duluan, bisa tidur-tiduran, dan bisa dapet kenalan baru, lo juga aneh, cewek sendirian, dateng jam segini, sambil bawa-bawa buku lagi”.

“Gue juga biasanya sama temen gue kok, tuh di sana, di tribun deket belakang gawang, tapi udah tiga pertandingan gue pindah dan dapet spot enak di sini, lagian temen gue masuknya mepet-mepet mau mulai, gue gak bisa bawa-bawa ini nih, kan kalo masih sepi gini polisinya masih bisa diajak kompromi.”,kata si gadis sambil memamerkan kotak makan dan botol minum yang mungkin bakal susah dibawa masuk jika mendekati kickoff pertandingan.

“lagian, buat gue nonton bola itu ritual gue buat kabur sementara dari kenyataan hidup dan tugas-tugas kuliah,di mana lagi coba lo bisa dapet ketenangan sekaligus bisa teriak-teriak,nyanyi-nyanyi sampe joget-joget gak jelas kalo bukan di dalem stadion?” si gadis menambahkan.

Aden seratus persen setuju, stadion itu selalu jadi tempat pelepas penat ia dan orang-orang yang sejenak mau kabur dari rutinitasnya, apalagi di kota besar tempat aden tinggal,semua keluh kesah umpatan dan cacian tumpah ruah di sini, makanya gak heran kalo kerusuhan sering terjadi di stadion sepakbola.

“Dulu awalnya gue juga heran kok ada orang yang mau nonton bola dari jauh, keringetan, panas, bayarnya lebih mahal dari bioskop lagi. padahalkan lebih enak nonton di tv, lebih jelas dan gratis. tapi pas sekali dateng langsung ketagihan pengen dateng lagi aja gitu.”  kata si gadis agak serius.

“sensasinya yang bikin beda”  kata Aden asal.

“gak ada di dufan!”  kemudian diikuti ketawa oleh keduanya.

Aden teringat ketika diajak tetangganya yang lebih tua menonton pertandingan pertamanya pada saat kelas satu smp di markas lama klub yang ia idolakan itu, dengan setelan jersey kw dan celana boim yang dibeli sehari sebelumnya, “nih tangannya begini nih” kata tetangganya waktu itu.

“gue juga baru nemu suasana baru nih, stadion pas sepi kayak gini ternyata beda banget. tenang.. paling  cuma suara mc yang ngetest sound, asli beda banget.. ” sekarang giliran Aden yang sok serius.

“iya, gue juga ngerasa kok, kayak bukan di stadion tapi di stadion, kayak gimana ya.. pokoknya gitu deh,  damai banget.. ” kata gadis itu ikut-ikutan serius.

“kayak diajak ke kahyangan berdua aja bareng Annelies mellema, damai banget!”  kata Aden meledek.

“diihh, Annelies cengeng gitu juga.. ” protes gadis itu

“gpp, yang penting cantik” jawab aden kemudian diikuti tawa keduanya.

lalu obrolan demi obrolan membenamkan mereka, dari cerita pemain idola,novel-novel pramoedya sampai menggosip petugas keamanan yang sedang dibariskan komandannya. .

tak terasa waktu berlalu, para pemain sudah mulai masuk ke dalam lapangan, bangku-bangku tribun yang kosong tadi pun mulai penuh sesak. nyanyian dan yel-yel dari supporter pun lambat laun keras terdengar. khas keriuhan stadion sepakbola.

“INI NIH, BEDA KANN?” kata Gadis itu sedikit berteriak di antara suara yel-yel yang terdengar.

Aden hanya mengangguk dan tersenyum kearah gadis yang sekarang sudah fokus lagi menyanyikan yel-yel dan sesekali meneriaki wasit itu.

Dea, iya..  beda banget.

0 comments