Rusuh Tiket Timnas, calo dan sistem yang aneh.

Jujur gue takut kenapa-kenapa setelah bikin tulisan ini,tapi kalo gak ditulis ada sesuatu yang terus ngeganjel di otak. gue yakin banyak orang yang masih peduli dengan sepak bola kita dan gue yakin pihak terkait pun tidak antikritik. jadi,semoga gue gak kenapa-kenapa..

mungkin kalau pak Edy membaca tulisan ini, perkenalkan saya Rifky. saya orang Indonesia biasa yang suka nonton sepak bola. Saya mengidolai Bambang Pamungkas,Ismed Sofyan dan David Luiz. tim jagoan saya adalah Persija Jakarta,Chelsea FC dan tentu Timnas Indonesia. maaf jika menggunakan kata “Gue” di tulisan ini, biar terkesan tidak kaku.

Berawal dari tweet-tweet dari akun-akun yang gue follow di twitter. gue tau bahwa pembelian tiket Final piala AFF 2016 bakal membeludak. bayangin selepas isya sudah ada yang mengantri di depan gerbang Makostrad dan belum lagi kabar antrian dari cibinong yang sejak sebelum magrib sudah mengular.
Setelah pergantian hari, Foto-foto yang menampilkan “para pejuang” semakin lama-semakin banyak dan ramai dan terprovokasi lah gue untuk ikut “berjuang”.

img_20161213_014649

ini sekitar jam 12 malem. foto diambil dari twitter

Niat awal gue yang bakal berangkat selepas subuh dengan Commuterline pertama dari Bekasi gue batalkan. sekitar jam 2, Setelah mandi, makan mie dan minum teh gue memberanikan diri untuk menembus dingin dan sepinya jalan Jakarta berbekal  dua lapis jaket.

Gila! itu hal pertama yang ada pikiran gue saat sampai di depan gerbang Makostrad. sekitar jam 3 antrian massa sudah sampai di depan pertigaan arah medan merdeka utara. antrian berjalan tertib dengan duduk berbaris 7-10 orang dan memanjang kebelakang terdapat juga tali plastik sebagai pembatas entah itu inisiatif dari panitia atau massa yang hadir. tapi setelah matahari agak naik karena massa yang datang terus membeludak mereka berdiri dan terus mendorong ke depan diperparah karena kurang sigapnya panitia dari awal yang menyebabkan kemacetan akibat tumpukan massa. tapi antrian masih termasuk tertib karena yang datang belakangan diarahkan(oleh pengatri lain) untuk menempati tempat di belakang.

img_20161213_041532

img_20161213_041405

sekitar jam 7 pagi pintu gerbang dibuka, semua orang masuk tanpa terkecuali dan tak jelas mana yang datang lebih dulu mana yang datang belakangan. setahu gue yang barisan depan ada di utara kemudian ketengah dan yang di selatan adalah yang baru datang.(kebetulan gue dapet di baris tengah). tapi yang didahulukan malah yang baris di selatan (?)  sampai pukul delapan barisan masih tertib dengan dibagi 6 baris(jujur gue juga bingung mekanismenya gimana) . tapi ada hal yang lucu, para panitia mendahulukan para ibu-ibu tua yang sangat mudah diindentifikasikan sebagai calo. (gue tau,harus manusiawi memang mendahulukan yang tua tapi kalo niatnya mau berantas calo? toh sangat mudah diindentifikasi kalo itu calo, atau mungkin ada yang tega nyuruh emaknya beli tiket sendiri?)

setelah berbaris cukup rapi panitia menyediakan 6 locket tiket (entah bentuknya kayak gimana) seperti yang udah gue sebutin di atas antrian dimulai dari sebelah selatan. kalo gak salah 10 orang perbarisan  udah mulai dilayani. setelah itu massa dari belakang sebelah selatan menyerobot ke depan dan kericuhan pun gak dapat dihindari.

setelah kericuhan pertama sistem ticketing aneh ini pun terus berjalan, dari disuruh jalan jongkok terus ke depan dan didorong lagi ke belakang. disuruh maju ke depan kemudian sikut-sikutan,dan gak jarang ada yg dipentung lagian antrian satu pintu gini gak mungkin gak bikin ricuh.

setelah tiga kali “menantang maut” dan ngeliat orang di sebelah gue pingsan gue mundur dan coba sabar. toh kata panitia (yang sampai 7-8 orang gue tanya) semua yang di dalam BAKAL KEBAGIAN TIKET. tenang aja di dalem gak sampe 3 rb orang kok, tiket 10 ribu mah bakal gak abis  rata-rata ngomongnya begitu dan gue selalu minta tolong agar pintu jangan sampai kebuka dan masuk massa baru.

setelah lama nunggu di belakang sambil ngeliat kegilaan orang-orang yang mulai banyak  jatuh pingsan, keinjek dan penuh lumpur (massa disiram air, terus tanah jadi becek. mantap) akhirnya massa disuruh baris. mengular 6 barisan kalo gak salah,rapi (gue pikir,kenapa gak dari tadi diginiin? ) dan 15 menit kemudian diumumin kalo tiket habis :) kontradiksi dengan pernyataan di atas.

img_20161213_070848

baru masuk dan masih tertib.

mtf_gbbao_112-jpg

kericuhan antrian.

 

setelah keluar gue keliling di sekitar MAKOSTRAD dan tebak apa yang banyak di sana? ya ! calo :)

setelah melihat pak Edy habis diwawancara di gerbang MAKOSTRAD gue berusaha untuk mendekat dan meminta foto,. gue bilang “Pak di luar masih banyak calo” dan kalo gak salah pak edy bilang “Cepat itu diamankan calo-nya,sambil menunjuk ke arah anak buahnya”  tiga anak buah pak edy yang berseragam mengikuti gue. dan tebak apa yang terjadi? gua malah ditekan dan seakan-akan dibenturkan dengan calo yang ada disekitar “mana itu calonya? kamu kalo ngomong yang benar” dengan nada yang keras dan sontak gue jadi pusat perhatian massa ( malah ada yg ngira gue calonya, yakali). ya jelas aja orang yang gue liat tadi udah gak keliatan . mau identifikasi calo lain pun bakal sulit kalo ngomong “mana calonya,mana calonya” keras-keras (kayak gak pernah nonton bola aja) kemudian dateng kerumunan  yang sependapat sama gue kalo banyak calo, dan entah kenapa tiba-tiba petugasnya pergi dan bilang “kalo ada calo kalian foto dan laporkan kesaya” kenapa gak dicari sendiri secara diam-diam aja ya?

img_20161213_110610

foto dengan pak edy abaikan muka gue yang dekil dan lusuh. antri dari jam 3 men !

 

setelah pulang pun gue ngerasa was-was kalo tiba-tiba gue diapa-apain (soalnya beberapa [yg mungkin calo] ada yang mandang gue sinis, ladang bisnisnya diusik) jalan kearah gambir buat ambil motor pun jadi sering-sering ngeliat ke belakang dan nunggu agak rame dulu. what a moment ! i never forget this day :)

oiya ada yang lucu lagi, buang air kecil di Makostrad disuruh bayar. ini disuruh loh ya,bukan seiklasnya jadi tiap-tiap orang yang buang kecil disuruh(diperintahin masukin duit kedalem teko) udah kaya di wc umum. padahal bukannya itu dari uang negara yang dibayar dari pajak rakyat ya?

jadi pelajaran hari ini, walaupun kamu orang yang dateng duluan,tertib,percaya dan datang dengan cinta.. kamu belum tentu menang kalo yang dijalankan  sistemnya masih seperti ini :)  jadi haruskah kita pisahkan sepakbola dan tentara kembali ke khittahnya?

Rusuh Tiket Timnas, calo dan sistem yang aneh.

 

 

 

 

 

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

0 comments