Sebuah Fragmen untuk bunda

‘”Kau memang sudah bukan Jawa lagi. Dididik Belanda jadi Belanda, Belanda coklat semacam ini. Barangkali kau pun sudah masuk Kristen.”
“Ah, Bunda ini. ada-ada saja. Saya tetap putra Bunda yang dulu.”
“Putraku yang dulu bukan pembantah begini.”
“Dulu putra Bunda belum lagi tahu buruk-baik. Yang dibantahnya sekarang hanya yang tidak benar, Bunda.”
“Itu tanda kau bukan Jawa lagi, tak mengindahkan siapa lebih tua, lebih berhak akan kehormatan, siapa yang lebih ..
“Ah, Bunda, jangan hukum saya. Saya hormati yang lebih benar.
“Orang Jawa sujud berbakti pada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran , Orang harus berani mengalah. Gus, nyanyian itu mungkin kau sudah tidak tahu lagi barangkali.”
“Saya masih mengingat, bunda, kitab-kitab Jawa masih saya bacai. Tapi itulah nyanyian keliru dari orang Jawa yang keliru.Yang berani mengalah terinjak-injak, Bunda.”
“Gus”
“Bunda berbelas tahun sudah saya bersekolah Belanda untuk dapat’mengetahui semua itu. Patutkah saya Bunda hukum setelah tahu.”
“Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan Ayahandamu pun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka aku.”
 “Ampun, Bunda”
kata-kata itu tajam menyambar. Kujatuhkan diri, berlutut di hadapannya dan memeluk kakinya, Jangan katakan seperti itu. Bunda. Jangan hukum sahaya lebih berat dari kesalahan sahaya. Sahaya hanya mengetahui yang orang Jawa tidak mengetahui, karena pengetahuan itu milik bangsa Eropa, dan karena memang saya belajar dan mereka. Ia jewer kupingku, kemudian berlutut, berbisik:
“Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuh-lah jalan yang kau anggap terbaik. Hanya jangan sakiti orangtuamu, dan orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu.”
“Saya tidak pernah berniat menyakiti siapa pun, Bunda.”
Ah, Gus, begini mungkin kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya.”
“Bunda, ampun, kesakitan karena tingkah saya hanya kemewahan berlebihan. Kan Bunda selalu berpesan agar saya belajar baik-baik ? Telah saya lakukan sepenuh bisa. Sekarang Bunda menyesali saya.Dan seakan aku masih bocah kecil dulu Bunda membelai-belai rambut dan pipiku.”
“Pada waktu aku hamilkan kau, aku bermimpi seorang tak kukenal telah datang memberikan sebilah belati.
Sejak itu aku tahu, Gus, anak dalam kandungan itu bersenjata tajam. Berhati-hati menggunakannya. Jangan sampai terkena dirimu sendiri…””
(Pramoedya Ananta Toer,Bumi Manusia Hal:193-194)

0 comments